Siti Nur Afida Tsani, Zahroh and yeri utami, yeri and Sholihul Anwar, Anwar (2025) PERAN GURU KELAS DALAM MENGEMBANGKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PEMBIASAAN 5S (SENYUM, SAPA, SALAM, SOPAN, DAN SANTUN) DI SD NEGERI 2 NGAWEN TAHUN PELAJARAN 2024/2025. Other thesis, STAI Muhammadiyah Blora.
BAB I SKRIPSI_SITI NUR AFIDA TSANI (PGMI) 212009 - budi hariono.docx
Download (79kB)
BAB II SKRIPSI AFIDA - budi hariono.docx
Restricted to Repository staff only
Download (67kB) | Request a copy
BAB III SKRIPSI AFIDA - budi hariono.docx
Restricted to Repository staff only
Download (36kB) | Request a copy
BAB IV SKRIPSI AFIDA - budi hariono.docx
Restricted to Repository staff only
Download (46kB) | Request a copy
BAB V SKRIPSI AFIDA - budi hariono.docx
Download (22kB)
LAMPIRAN SKRIPSI AFIDA - budi hariono.docx
Download (1MB)
Abstract
Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik (Handoyo, 2019). Dalam era globalisasi saat ini, tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan semakin kompleks. Salah satu tantangan utama adalah menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat pada peserta didik agar mampu menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Pendidikan karakter menjadi solusi utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral dan etika yang baik.
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter individu. Dalam lingkup pendidikan dasar, peran guru sangat menentukan dalam mengarahkan perkembangan karakter peserta didik. Guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang membentuk kepribadian dan moral anak didik. Dalam hal ini, implementasi nilai-nilai karakter menjadi sangat relevan untuk ditanamkan sejak dini. Pelaksanaan program 5S juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya pada Pasal 31 Ayat (3) yang menyatakan bahwa (Akad, 2020) :
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Implementasi program ini mencerminkan upaya nyata dalam mendukung pendidikan karakter yang menjadi salah satu tujuan pendidikan nasional. Namun, pelaksanaan program 5S tidak terlepas dari berbagai tantangan. Beberapa di antaranya adalah kurangnya kesadaran dari peserta didik untuk konsisten mempraktikkan nilai-nilai tersebut, serta keterbatasan waktu guru untuk memantau perkembangan karakter setiap peserta didik secara individual. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan agar program ini dapat berjalan efektif.
Lebih lanjut, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa peran guru sebagai fasilitator dan motivator dalam program 5S sangat relevan dengan regulasi tersebut. Guru, sebagai salah satu komponen utama dalam pendidikan, memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter peserta didik.
Sebagai sosok yang berada di garda terdepan, guru tidak hanya bertugas untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan nilai-nilai kehidupan. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, yang menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai karakter dalam setiap aspek pembelajaran di sekolah.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh guru kelas dalam mengembangkan karakter peserta didik adalah melalui pembiasaan 5S, yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Konsep 5S ini merupakan bentuk sederhana dari pendidikan karakter yang mengedepankan interaksi positif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah (Safitri et al., 2022). Melalui pembiasaan 5S, peserta didik diajarkan untuk menghargai orang lain, menunjukkan sikap ramah, dan membangun hubungan sosial yang harmonis. Pembiasaan 5S memiliki dampak positif yang signifikan dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Senyum, sebagai ekspresi kebaikan, dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menumbuhkan rasa nyaman.
Sapa dan Salam mencerminkan sikap peduli dan menghormati orang lain, sementara Sopan dan Santun mencerminkan kedewasaan dalam berperilaku dan berkomunikasi (Wahyudi et al., 2022). Dengan mengintegrasikan pembiasaan 5S dalam aktivitas sehari-hari, guru kelas dapat membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Namun, implementasi pembiasaan 5S di sekolah tidak selalu berjalan mulus. Berbagai kendala, seperti kurangnya kesadaran dari peserta didik, keterbatasan waktu, atau minimnya dukungan dari lingkungan sekitar, seringkali menjadi hambatan. Oleh karena itu, peran guru kelas menjadi sangat krusial dalam memastikan bahwa pembiasaan 5S dapat diterapkan secara konsisten dan efektif.
Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan karakter peserta didik adalah melalui pelaksanaan program 5S, yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun. Program ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan positif pada peserta didik, seperti bersikap ramah, menghormati orang lain, serta menjaga hubungan sosial yang harmonis. Pelaksanaan 5S di sekolah dasar, khususnya di SD Negeri 2 Ngawen, memiliki peran strategis dalam membangun fondasi karakter peserta didik yang kuat. Di SD Negeri 2 Ngawen, guru kelas memegang peranan penting dalam menerapkan nilai-nilai 5S. Guru menjadi model atau teladan bagi peserta didik dalam mengaplikasikan sikap-sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga peserta didik dapat menginternalisasi nilai-nilai 5S secara alami.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran guru kelas dalam mengembangkan karakter peserta didik melalui pembiasaan 5S. Penelitian ini juga akan menganalisis strategi yang digunakan oleh guru kelas untuk mengatasi hambatan dalam implementasi pembiasaan 5S, serta dampak yang ditimbulkan terhadap pembentukan karakter peserta didik. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan karakter di Indonesia.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | L Education > L Education (General) |
| Divisions: | Faculty of Law, Arts and Social Sciences > School of Education |
| Depositing User: | Unnamed user with email [email protected] |
| Date Deposited: | 23 Feb 2026 05:57 |
| Last Modified: | 23 Feb 2026 05:57 |
| URI: | https://eprints.staimuhblora.ac.id/id/eprint/84 |
